Saturday, January 15, 2022

Pengendalian Penyakit Filariasis

 

Kelompok 3

Anggi Dwi Ruslianti              (C1AA18017)

Annissa Alivia Setianti          (C1AA18019)

Arneta Oktavia S                  (C1AA18021)

 

PENGENDALIAN PENYAKIT FILARIASIS

 

A.    Pengertian Filariasis

Filariasis (penyakit kaki gajah) adalah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh cacing filaria dan ditularkan oleh nyamuk Mansonia, Anopheles, Culex, Armigeres. Cacing tersebut hidup di saluran dan kelenjar getah bening dengan manifestasi klinik akut berupa demam berulang, peradangan saluran dan saluran kelenjar getah bening. Pada stadium lanjut dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan, payudara dan alat kelamin (Chin J, 2006).

Filariasis (penyakit kaki gajah) adalah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh cacing filaria yang menyerang saluran dan kelenjar getah bening. Penyakit ini dapat merusak sistem limfe, menimbulkan pembengkakan pada tangan, kaki, glandula mammae dan scrotum dan menimbulkan cacat seumur hidup (Depkes RI, 2009).

 

B.     Gejala Filariasis

Gejala-gejala yang terdapat pada penderita  Filariasis  meliputi  gejala  awal (akut) dan gejala lanjut (kronik). Gejala awal (akut) ditandai dengan demam berulang 1-2 kali atau lebih setiap bulan selama 3-4 hari apabila bekerja berat, timbul benjolan yang terasa panas dan nyeri pada lipat paha atau ketiak tanpa adanya luka di badan, dan teraba adanya tali urat seperti tali yang bewarna merah dan sakit mulai dari pangkal paha atau ketiak dan berjalan kearah ujung kaki atau tangan. Gejala lanjut (kronis)  ditandai  dengan  pembesaran  pada  kaki,  tangan,  kantong  buah  zakar, payudara  dan  alat  kelamin  wanita  sehingga  menimbulkan  cacat  yang  menetap (Depkes RI, 2005).

 

C.    Cara Penularan Filariasis

Pada saat nyamuk menghisap darah manusia/hewan yang mengandung mikrofilaria, mikrofilaria akan terbawa masuk ke dalam lambung nyamuk dan melepaskan selubungnya kemudian menembus dinding lambung nyamuk bergerak menuju otot atau jaringan lemak di bagian dada. Mikrofilaria akan mengalami perubahan bentuk menjadi larva stadium I (L1), bentuknya seperti sosis berukuran 125-250µm x 10-17µm dengan ekor runcing seperti cambuk setelah 3 hari. Larva tumbuh menjadi larva stadium II (L2) disebut larva preinfektif yang berukuran 200- 300µm x 15-30µm dengan ekor tumpul atau memendek setelah 6 hari. Pada stadium II larva menunjukkan adanya gerakan.

Kemudian larva tumbuh menjadi larva stadium III (L3) yang berukuran 1400µm x 20µm. Larva stadium L3 tampak panjang dan ramping disertai dengan gerakan yang aktif setelah 8-10 hari pada spesies Brugia dan 10-14 hari pada spesies Wuchereria. Larva stadium III (L3) disebut sebagai larva infektif. Pada saat nyamuk infektif menggigit manusia, maka larva L3 akan keluar dari probosisnya dan tinggal di kulit sekitar lubang gigitan nyamuk kemudian menuju sistem limfe. Larva L3 Brugia malayi dan Brugia timori akan menjadi  cacing  dewasa  dalam  kurun  waktu  3,5  bulan,  sedangkan  Wuchereria bancrofti memerlukan waktu lebih 9 bulan (Depkes RI, 2005).

 

D.    Pola Penyebaran Filariasis

Filariasis di Indonesia disebabkan oleh tiga spesies cacing filaria yaitu Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori. Wuchereria bancrofti ditemukan di daerah perkotaan seperti Jakarta, Bekasi, Tangerang, Semarang, dan Pekalongan. Wuchereria bancrofti bersifat periodik nokturna, artinya mikrofilaria banyak terdapat dalam darah tepi pada malam hari. Wuchereria bancrofti tipe perkotaan ditularkan oleh nyamuk Culex quinquefasciatus yang berkembangbiak di air limbah rumah tangga, sedangkan Wuchereria bancrofti tipe pedesaan ditularkan oleh nyamuk dengan berbagai spesies antara lain Anopheles, Culex, dan Aedes. Brugia malayi tersebar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan beberapa pulau di Maluku. Brugia malayi tipe periodik nokturna, mikrofilaria ditemukan dalam darah tepi pada malam hari. Nyamuk penularnya adalah Anopheles barbirostis pada daerah persawahan. Brugia malayi tipe subperiodik nokturna, mikrofilaria ditemukan lebih banyak pada siang hari dalam darah tepi. Nyamuk penularnya adalah Mansonia sp pada daerah rawa.

 

E.     Pengobatan Filariasis

Penyakit filariasis menimbulkan kesengsaraan kepada masyarakat, maka Kementerian Kesehatan sangat peduli kepada masyarakat yang menderita penyakit kaki gajah. Kementerian Kesehatan juga berupaya mencegah supaya masyarakat tidak terkena penyakit

filariasis.

1.      Penderita bisa merujuk ke puskesmas terdekat untuk mendapatkan obat Dietilkarbamazin sitrat (DEC) secara gratis.

a.       Pada keadaan ringan, yakni sebatas bengkak-bengkak ringan sebaiknya penderita tidak mengobati sendiri karena cacing akan mati dan pulih seperti sedia kala.

b.      Pembengkakan sudah besar sekali tidak bisa diobati lagi, tidak bisa dipulihkan maka sebaiknya melakukan pencegahan supaya jangan sampai cacing dan anak cacing yang sudah ada di tubuh penderita terus berkembang.

2.      Mengikuti program Pemberian Obat Pencegahan Massal Filariasis (POPM) dengan minum DEC dan albendazole satu tahun sekali selama 5 tahun

3.      Pencegahan meluasnya penyakit kaki gajah dengan dua langkah.

a.       Pertama, dengan mencegah gigitan nyamuk dan menjaga kebersihan

b.      Kedua, melakukan pengecekan kesehatan dan menjalankan pengobatan bila positif terkena penyakit kaki gajah.

 

F.     Filariasis di Indonesia

Pada tahun 2018, terdapat 10.681 kasus filariasis yang tersebar di 34 provinsi. Angka ini menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini dikarenkan, beberapa kasus dilaporkan meninggal dunia dan adanya perubahan diagnosis sesudah dilakukan konfirmasi kasus klinis kasus kronis yang dilaporkan tahun sebelumnya (Kemenkes, 2019). Grafik berikut menggambarkan peningkatan dan penurunan kasus filariasis di Indonesia sejak tahun 2010.

Grafik jumlah kasus kronis Filariasis di Indonesia Tahun 2010-1018



Sumber: Profil Kesehatan Indonesia 2018, Tahun 2019

Berdasarkan grafik diatas jumlah kasus tertinggi berada di tahun 2014 yaitu sebanyak 14.932, dan jumlah kasus terendah berada di tahun 2018 yaitu sebanyak 10.681.

 

 

 

 

 

G.    Data Cakupan Pemberian Obat Pencegahan Massal Filariasis (POPM) tahun 2010-2019

1.      Tabel Data Cakupan Pemberian Obat Pencegahan Massal Filariasis (POPM) tahun 2010-2019

No

Tahun

Cakupan POPM

1.

2010

39,40

2.

2011

37,70

3.

2012

56,50

4.

2013

66,90

5.

2014

73,90

6.

2015

69,50

7.

2016

76,70

8.

2017

78,20

9.

2018

77,48

10.

2019

79,31

      Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2020

 

2.      Diagram Batang Data Cakupan Pemberian Obat Pencegahan Massal Filariasis (POPM) tahun 2010-2019

                                                                



Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2020

Berdasarkan diagram diatas cakupan POPM filariasis terendah diberikan di tahun 2011 yaitu sebesar 37,3 dan cakupan POPM filariasis tertinggi diberikan di tahun 2019 yaitu sebesar 79,31. Dan bisa dilihat bahwa POPM filariasis mengalami penurunan dan peningkatan tetapi pada 4 tahun belakangan mengalami peningkatan artinya kementrian kesehatan bisa dikatakan berhasil dalam pencegahan dan pengobatan filariasis dengan Pemberian Obat Pencegahan Massal Filariasis (POPM).

 


DAFTAR PUSTAKA

Kementrian Kesehatan. (2005). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1582 Tahun 2005 tentang Pedoman Pengendalian Filariasis (Penyakit Kaki Gajah). Jakarta: Kementrian Kesehatan

Kementrian Kesehatan. (2007). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 893 Tahun 2007 tentang Pedoman Penanggulangan Kejadian Ikutan Pasca Pengobatan Filariasis. Jakarta: Kementrian Kesehatan

Kementrian Kesehatan. (2019). Profil Kesehatan Indonesia 2018. Jakarta: Kementrian Kesehatan

Ujang, Siswoko. (2018). Hubungan Pengetahuan Dengan Perilaku Masyarakat Tentang Pencegahan Penyakit Kaki Gajah (Filariasis) di Kabupaten Ponorogo. Skripsi: Universits Muhammadiyah Ponorogo.

No comments:

Post a Comment